Zhafirah Umroh, Biro Umroh di Kudus.
-Jalan Raya Kudus-Pati Tenggeles Mejobo Kudus-
Zhafirahumrohkudus@gmail.com
0291 – 2912334/081-56789-0219

MENGINTIP TRADISI LEBARAN DI TANAH SUCI

 

Setelah kita melaksanakan puasa Ramadan selama 30 hari, saatnya kita meraih kemenangan yaitu merayakan Hari Raya Idul Fitri. Lebaran akan disambut dengan suka cita oleh umat Muslim. Perayaan lebaran di setiap derah tentu berbesa-beda, termasuk yang ada di Tanah Suci. Tidak berbeda dengan di Indonesia, di Tanah Suci saat idul fitri juga dirayakan dengan meriah baik di Mekkah maupun di Madinah.

Masyarakat Arab Saudi akan menghiasai rumah mereka dan mempersiapkan masakan untuk hidangan pada hari raya. Bedanya jika di Indonesia menu utama saat lebaran adalah ketupat dan opor ayam, sementara di Arab Saudi menunya lebih ke makanan yang manis seperti coklat. Makanan yang tidak boleh terlewatkan bagi masyarakat Arab Saudi adalah kopi Arab dan kurma. Selain itu kunafa juga tak boleh ketinggalan, kunafa merupakan sejenis mie kering yang ditimpa dengan susu kental.

Akan tetapi saat malam takbiran, di arab Saudi tidak seperti di Indonesia yang akan banyak masyarakat yang menyerukan takbir keliling, di Arab Saudi justru suasanya sepi dan tidak ada gema takbir. Takbir akan dikumandangkan pada tanggal 1 Syawal ketika shalat Ied.

Setelah melaksanakan shalat Idul fitri, masyarakat disana akan saling berjhabat tangan dan bermaaf-maafan. Kemudian akan memberi hadiah kepada anak yang hadir. Orang-orang akan turun ke jalan dan menunjukkan kemurahan hati mereka. Bagi pria Arab biasanya akan pergi membeli beras dan bahan pokook dalam jumlah yang bayank, kemudian akan diberikan kepada fakir miskin dan kaun dhuafa’. Biasanya mereka meletakkannya di depan rumah kaum dhuafa’ secara acak.

Tradisi ini berbeda dengan Indonesia ya, bagi masyarakat Indosnesia setelah melakukan shalat Ied mereka akan kembali ke rumah masming-masing dan akan mengunjungi tetangga serta keluarga terdekat mereka.

Meskipun tradisi yang berbeda-beda yang terpenting adalah makna dari hari yang firti ini. Bagaimana kita bisa menjadi insane yang lebih baik di hari yang fitri. Maka marilah hikmah kebersamaan dan persatuan yang menjadi salah satu ruh ibadah Ramadan dan esensi Idul fitri ini kita jaga. Pertahankan dan tingkatkan terus persatuan sehingga benar-benar menjadi karakter tetap diri kita sebagai kaum mukminin yang senantiasa bersaudara secara harmonis. (dikutip dari sekolahumroh.com)

About the Author

Leave a Reply

*